Ternate – Musyawarah Daerah (Musda) VII Partai Golkar Kota Ternate yang dijadwalkan berlangsung pada 12 Oktober 2026 diprediksi menjadi panggung adu gengsi antarkader dengan latar belakang dan pengalaman politik berbeda. Di satu sisi, terdapat figur-figur yang memiliki pengalaman di parlemen dan struktur partai. Di sisi lain, muncul Ardian Idhan yang membawa wajah generasi muda dengan pengalaman keterlibatan dalam berbagai agenda besar Partai Golkar.

Persaingan menuju kursi Ketua DPD II Partai Golkar Kota Ternate bukan sekadar persoalan siapa yang akan memimpin partai untuk periode berikutnya. Lebih dari itu, Musda menjadi momentum untuk melihat bagaimana pengalaman politik, perjalanan berorganisasi, dan semangat regenerasi bertemu dalam satu arena demokrasi internal partai.

Lima nama yang masuk dalam bursa pencalonan adalah Ardian Idhan, Bahtiar Mole Tahir, Muhammad Saiful, Makmur Gamgulu, dan Amin Subuh. Masing-masing memiliki latar belakang serta pengalaman yang berbeda, mulai dari kiprah legislatif hingga keterlibatan dalam struktur dan agenda organisasi.

Di antara nama-nama tersebut, Ardian Idhan disebut sebagai kandidat paling muda. Kehadirannya menghadirkan dimensi regenerasi dalam persaingan kepemimpinan Golkar Ternate yang turut diwarnai figur-figur dengan pengalaman politik dan organisasi.

Meski relatif muda, perjalanan Ardian di lingkungan Golkar tidak semata-mata dimulai ketika namanya masuk dalam bursa pencalonan. Ia disebut telah lama terlibat dalam sejumlah agenda besar partai, yang menjadi bagian dari proses pengenalan terhadap dinamika organisasi, konsolidasi kader, dan perjalanan politik Golkar.

Keterlibatan tersebut menjadi salah satu aspek yang menarik untuk melihat perjalanan Ardian sebagai kader. Sebab, proses berpolitik tidak hanya berkaitan dengan usia atau jabatan formal, tetapi juga menyangkut partisipasi, kontribusi, serta pemahaman terhadap kerja-kerja organisasi.

Munculnya Ardian dalam bursa pencalonan pun menghadirkan pembicaraan mengenai regenerasi di tubuh Golkar Ternate. Figur muda menjadi bagian dari dinamika organisasi yang terus membutuhkan kader untuk melanjutkan kepemimpinan dan menghadapi perkembangan politik. Namun, tantangannya bukan sekadar membawa semangat baru, melainkan juga menunjukkan kesiapan dalam memahami mekanisme organisasi dan membangun konsolidasi kader.

Sementara itu, sejumlah kandidat lain memiliki rekam jejak di dunia politik dan legislatif. Makmur Gamgulu, misalnya, merupakan mantan anggota DPRD Kota TernateĀ  yang pernah mengikuti kontestasi Pilkada Ternate sebagai calon wakil wali kota. Pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan politiknya di tingkat daerah.

Amin Subuh juga dikenal melalui kiprahnya di lembaga legislatif sebagai Wakil Ketua DPRD Kota Ternate. Sementara Bahtiar Mole Tahir memiliki pengalaman sebagai anggota DPRD Kota Ternate. Adapun Muhammad Saiful tercatat memiliki pengalaman dalam struktur kepengurusan Golkar Kota Ternate dan dunia legislatif.

Latar belakang tersebut memperlihatkan bahwa persaingan Musda VII diwarnai kandidat dengan pengalaman dan perjalanan politik yang tidak seragam. Ada yang memiliki rekam jejak dalam jabatan publik, ada yang berpengalaman di struktur partai, dan ada pula yang menampilkan narasi regenerasi melalui keterlibatan dalam berbagai agenda organisasi.

Pertemuan berbagai latar belakang inilah yang membuat Musda Golkar Ternate menarik untuk dicermati. Persaingan tersebut dapat dibaca sebagai pertemuan antara pengalaman dan semangat pembaruan, meski pembagian senior dan generasi muda tidak semata-mata ditentukan oleh usia, melainkan juga oleh perjalanan serta pengalaman masing-masing kader.

Bagi Golkar Ternate, tantangan ke depan bukan hanya menentukan siapa yang akan menduduki kursi ketua, tetapi juga memastikan organisasi tetap solid, mampu merawat komunikasi antarkader, dan memiliki kesiapan menghadapi agenda politik mendatang. Pengalaman para kader senior dan partisipasi generasi muda dapat menjadi bagian dari proses keberlanjutan organisasi.

Pada akhirnya, Musda merupakan forum bagi kader untuk menentukan arah kepemimpinan partai. Rekam jejak, kontribusi, pemenuhan persyaratan organisasi, serta kepercayaan peserta akan menjadi bagian penting dalam proses tersebut.

Adu gengsi senior versus generasi muda pun menjadi salah satu sudut menarik dalam Musda VII Golkar Ternate. Bukan semata tentang siapa yang lebih berpengalaman atau siapa yang paling muda, melainkan tentang bagaimana setiap kandidat membawa perjalanan politik dan komitmennya untuk masa depan Partai Golkar di Kota Ternate.

Musda VII dijadwalkan berlangsung pada 12 Oktober 2026 di Hotel Bela Kota Ternate. Forum tersebut akan menjadi ruang bagi kader untuk menentukan sosok yang dipercaya memimpin DPD II Partai Golkar Kota Ternate pada periode mendatang. (EL MIGO/Breakout)

Bagikan